Kebanyakan orang yang mau memberikan sesuatu karena ingin mendapatkan balasan, karena itu dalam hal memberi selalu ada syaratnya, bahkan ada paksaan. Hal ini menunjukan orang yang tidak ada kasih. Memberi tanpa kasih sering membuat hati terasa berat dan tidak puas. Ketika kita memberi karena terpaksa, kita mudah lelah, sedih, atau iri saat membandingkan dengan orang lain. Pemberian pun berubah menjadi kewajiban formal, bukan ungkapan hati yang tulus. Memberi dengan paksaan menghilangkan sukacita dan kasih sejati yang seharusnya menumbuhkan kebaikan. Inilah pengingat bahwa motivasi hati adalah inti dari setiap tindakan, termasuk memberi. Namun sebaliknya orang yang memiliki sikap taat karena kasih akan bertindak dengan sepenuh hati tanpa ada paksaan dari siapapun, sebab dia mengasihi.
Dalam 2 Korintus 9:7 mengajarkan bahwa memberi harus dari hati yang rela dan penuh kasih, bukan karena tekanan atau kewajiban. Memberi dengan sukacita berarti kita melakukannya dengan senang hati, tanpa rasa takut atau harus “menyamai” orang lain. Memberi yang seperti ini lahir dari hati yang penuh kasih kepada Allah dan juga kepada sesama bahkan memberi dengan rasa sukacita ketika melihat berkat sampai ke tangan orang lain. Taat karena kasih berbeda dengan taat karena takut. Ketika memberi dengan hati tulus, kita menunjukkan kasih yang nyata. Bukan jumlahnya yang penting, tapi motivasi di balik pemberian. Allah melihat hati kita, dan memberi dengan sukacita membawa damai dan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan materi. Memberi dengan sukacita membuat kita ikut berpartisipasi dalam kasih Allah di dunia. Ini adalah ketaatan yang paling murni dan menyenangkan: kita memberi karena kasih, bukan karena harus.